Selasa, 04 Agustus 2015

Makalah Hukum Mendel



 " HUKUM MENDEL "
DOSEN PENGAMPU: dr. PAUL KALALO




 





 DISUSUN OLEH 
            CHRISTIANA A. RIWU
           20130401024





AKADEMI KEBIDANAN YALEKA MARO MERAUKE
MERAUKE
2015

 






BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Hukum pewarisan Mendel adalah hukum mengenai pewarisan sifat pada organisme yang dijabarkan oleh Gregor Johann Mendel ( 1822- 1884) dalam karyanya “ Percobaan mengenai Persilangan Tanaman”. Hukum ini terdiri dari dua bagian: Hukum pemisahan (segregation) dari Mendel, juga dikenal sebagai Hukum Pertama Mendel, dan Hukum berpasangan secara bebas (independent assortment) dari Mendel, juga dikenal sebagai Hukum Kedua Mendel. Hukum pewarisan Mendel adalah hukum mengenai pewarisan sifat pada organisme, yang kita kenal dengan hukum segregasi dan hukum asortasi bebas, yang telah di jabarkan oleh Gregor Johann Mendel . Mendel mengatakan bahwa pada pembentukan gamet (sel kelamin), kedua gen induk (Parent) yang merupakan pasangan alel akan memisah sehingga tiap-tiap gamet menerima satu gen dari induknya sebagaimana bunyi hukum mendel I, dan bunyi hukum mendel II, menyatakan bahwa bila dua individu mempunyai dua pasang atau lebih sifat, maka diturunkannya sepasang sifat secara bebas, tidak bergantung pada pasangan sifat yang lain.
1.2  Rumusan Masalah
a.  Apa Latar Belakang Teori Mendel?
b.  Apa Bunyi Hukum Mendel I?
c.  Apa Bunyi Hukum Mendel Ii?             
d.  Apa Teori Pewarisan Sifat?
e.  Bagaimana Pola Hereditas Pada Manusia?
1.3   Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui:
a.  Latar Belakang Teori Mendel.
b.  Bunyi Hukum Mendel I.
c.  Bunyi Hukum Mendel II.
d.  Teori Pewarisan Sifat.
e.  Pola Hereditas Pada Manusia.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Latar Belakang Teori Mendel
Genetika adalah ilmu yang mempelajari pewarisan sifat dari induk kepada keturunannya. Gregor Johann mendel (1822-1884), seorang biarawan disebuah biara di Brunn, Austria menyilangkan kacang ercis (Pisum sativum), kemudian hasil persilangan ditanam dan di amati, mendel melakukannya selama 12 tahun. Alasan Mendel memilih kacang ercis sebagai bahan percobaan adalah :
a.       Memiliki pasangan sifat beda yang mencolok.
b.      Melakukan penyerbukan sendiri.
c.       Mudah dilakukan penyerbukan silang.
d.      Waktu yang diperlukan untuk menghasilkan keturunan cepat.
e.       Mempunyai keturunan banyak.
Langkah awal sebelum dilakukan perhitungan terhadap pengamatannya adalah menentukan galur murni jenis tanaman yang dijadikan percobaan. Tanaman galur murni adalah tanaman yang apabila dilakukan penyerbukan sendiri akan menghasilkan keturunan yang semuanya mempunyai sifat yang sama dengan induknya. Dalam percobaannya Mendel melakukan perkawinan silang dengan menyerbukkan sendiri antara dua varietas ercis yang berbeda sebagai induk-induknya. Turunan hasil perkawinan silang ini disebut hybrid, sedangkan prosesnya hibridisasi. Dari hasil percobaan yang diperolehnya, Mendel menyusun beberapa hipotesis, yaitu:
a.    Setiap sifat pada organisme dikendalikan oleh satu pasang factor keturunan, satu dari induk jantan dan satu induk betina.
b.    Setiap pasang factor keturunan menunjukkan bentuk alternative sesamanya, misalnya tinggi atau rendah, bulat atau keriput, kuning atau hijau. Kedua bentuk alternative ini disebut alel.
c.    Bila pasangan factor itu terdapat bersama-sama dalam satu tanaman, factor dominasi akan menutup factor resesif.
d.      Pada waktu pembentukan gamet, pasangan factor atau masing-masing alel akan memisah secara bebas.
e.    Individu murni mempunyai alel sama, yaitu dominan saja atau resesif saja.
2.2 Bunyi Hukum Mendel I
 Hukum Mendel I dikenal juga dengan Hukum Segregasi menyatakan “  pada pembentukan gamet kedua gen yang merupakan pasangan akan dipisahkan dalam dua sel anak’. Hukum ini berlaku untuk persilangan monohibrid (persilangan dengan satu sifat beda). Secara garis besar, hukum ini mencakup tiga pokok yaitu:
a. Gen memiliki bentuk-bentuk alternatif yang mengatur variasi pada karakter turunannya. Ini adalah konsep mengenai dua macam alel; alel resesif (tidak selalu nampak dari luar, dinyatakan dengan huruf kecil, misalnya w ), dan alel dominan (nampak dari luar, dinyatakan dengan huruf besar, misalnya R)
b. Setiap individu membawa sepasang gen, satu dari tetua jantan (misalnya w dan satu dari tetua betina (misalnya RR ).
c. Jika sepasang gen ini merupakan dua alel yang berbeda, ( Rw dan rW ) alel dominan ( R dan W ) akan selalu  terekspresikan (nampak secara visual dari luar). Alel resesif yang ( r dan w )  tidak selalu terekspresikan, tetap akan diwariskan pada gamet yang dibentuk pada turunannya
dalam percobaannya mendel melakukan persilangan monohybrid. Mendel melakukan persilangan tanaman ercis berbiji bulat dengan tanaman ercis berbiji keriput. Semua keturunan F1-nya berupa tanaman ercis berbiji bulat. Selanjutnya  di silangakan dengan sesamanya dengan menghasilkan keturunan . Perbandingan fenotip = 3 berbiji bulat : 1 berbiji keriput.
P (parental gamet) = BB (biji bulat) >< bb (biji keriput)
                                                                 B  ><  b
 ( Filial)              =                          Bb
><                       =             Bb >< Bb
                        =             B         B
                                                   b          b
                                = 
     B
b
B
BB
( bulat)
Bb (bulat)
b
 Bb
( bulat )
Bb
( keriput )
Perbandingan genotip   =  BB : Bb : bb
     =  1    : 2    : 1
Perbandingan genotip   =   Biji bulat : Biji keriput
                                           =             3    :   1
2.3 Bunyi Hukum Mendel II
dikenal dengan Hukum Independent Assortment, menyatakan: ‘bila dua individu berbeda satu dengan yang lain dalam dua pasang sifat atau lebih, maka diturunkannya sifat yang sepasang itu tidak bergantung pada sifat pasangan lainnya’. Hukum ini berlaku untuk persilangan dihibrid (dua sifat beda) atau lebih.
Contoh: disilangkan ercis berbiji bulat warna kuning (dominan) dengan ercis berbiji kisut warna hijau (resesif).


2.4 Teori Hereditas
Hereditas atau biasa di kenal dengan pewarisan sifat merupakan suatu pewarisan sifat dari induk kepada keturunannya. Ilmu yang mempelajari tentang pewarisan sifat disebut dengan genetika. Pewarisan sifat itu dapat ditentukan oleh kromosom dan gen. Teori-teori tentang pewarisan sifat adalah sebagai berikut :
a.    Teori Embryo Teori ini dikemukanan oleh William Harvey, 1578-1657 yang menyatakan, bahwa semua hewan berasal dari telur. Pernyataan ini diperkuat oleh Reiner de Graaf (1641-1673) peneliti pertama yang mengenal bersatunya sel sperma dengan sel telur yang akan membentuk embrio. Reiner de Graaf menyatakan bahwa ovarium pada burung sama dengan ovarium pada kelinci.
b.    Teori Preformasi Teori ini dikemukakan oleh Jan Swammerdan, 1637-1689 yang menyatakan bahwa telur mengandung semua generasi yang akan dating sebagai miniature yang telah terbentuk sebelumnnya.
c.    Teori Epigenesis Embriologi Teori ini dikemukakan oleh C.F. Wolf, 1738-1794, yang menyatakan bahwa ada kekuatan vital dalam benih organiseme dengan kekuatan ini menyebabkan pertumbuhan embrio menurut pola perkembangan sebelumnya.
d.   Teori Plasma Nutfah Teori ini dikemukakan oleh J. B. Lamarck, 1744-1829 yang menyatakan bahwa sifat yang terjadi karena rangsangan dari luar (lingkungan) terhadap struktur fungsi organ yang diturunkan pada generasi berikutnya.
e.    Teori Pengenesis Teori ini dikemukakan oleh C. R. Darwin, yang menyatakan bahwa setiap bagian tubuh dewasa menghasilkan benih-benih kecil yang disebut gemuia.
f.     Teori Telegani Teori ini dikemukakan oleh Ernest Haeckel, menyatakan bahwa spermatozoa sebagian besar tersusun atas inti dan inti bertanggung jawab sebagai penurunan sifat.
2.5 Pola Hereditas Pada Manusia
Beberapa sifat orang tua yang diturunkan kepada anaknya antara lain sifat fisik, kelainan atau penyakit, dan golongan darah.
Hereditas di pengaruhi oleh gen, gen pertama kali di kenalkan oleh Thomas Hunt Morgan, ahli genetika dan embriologi, amerika serikat (1911), mengatakan bahwa substantsi hereditas yang dinamakan gen terdapat dalam lokus, di dalam kromosom. Menurut W. johansen, gen merupakan unit terkecil dari  suatu makhluk hidup yang mengandung substansi hereditas, terdapat di dalam lokus gen. Gen terdiri dari protein dan asam nukleat ( DNA dan RNA) berukuran antara 4-8 m micron).
a.     Sifat-sifat Gen
1.    Mengandung informasi genetic
2.    Tiap gen mempunyai tugas dan fungsi berbeda.
3.    Pada waktu pembelahan mitosis dan meosis dapat mengadakan duplikasi.
4.    Ditentukan oleh sususnan kombinasi basa nitrogen.
b.    Fungsi gen
Fungsi gen antara lain:
1.    Menyampaikan informasi kepada generasi berikutnya.
2.    Sebagai penentu sifat yang diturunkan
3.    Mengatur perkembangan dan metabolisme.
c.     Simbol-simbol gen
1.    Gen dominan, yaitu gen yang menutupi ekspresi gen lain, sehingga sifat yang dibawanya terekspresikan pada turunannya (suatu individu) dan biasanya dinyatakan dalam huruf besar, misalnya B.
2.    Gen resesif, yaitu gen yang terkalahkan (tertutup) oleh gen lain (gen dominan) sehingga sifat yang dibawanya tidak terekspresikan pada keturunannya.
3.    Gen heterozigot, yaitu dua gen yang merupakan perpaduan dari sel sperma (A) dan sel telur (a).
4.    Gen homozigot, dominan, yaitu dua gen dominan yang merupakan perpaduan dari sel kelamin jantan dan sel kelamin betina, misalnya genotip AA.
5.    Gen homozigot resesif, yaitu dua gen resesif yang merupakan hasil perpaduan dua sel kelamin, misalnya aa.
6.    Kromosom homolog, yaitu kromosom yang berasal dari induk betina berbentuk serupa dengan kromosom yang berasal dari induk jantan.
7.    Fenotip, yaitu sifat-sifat keturunan pada F1, F2, dan F3 yang dapat dilihat, seperti tinggi rendah, warna dan bentuk,
8.    Genotip yaitu sifat-sifat keturunan yang tidak dapat dilihat misalnya, AA, Aa, dan aa.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar